BANDA ACEH,Bersuarakita – Grup musik asal Aceh, Origon, kembali memperkenalkan karya yang mengangkat nilai budaya Tanah Rencong. Band yang terbentuk pada 2022 itu merilis single terbaru berjudul Meusare, menyusul karya sebelumnya, Reusam.
Bagi Origon, musik bukan sekadar ruang berekspresi. Lirik dan aransemen yang mereka hadirkan menjadi medium untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya dan pesan dari indatu kepada generasi sekarang.
Origon digawangi Yogi sebagai vokalis, Sahar pada gitar, Rian sebagai bassis, dan Robi di drum. Sejak awal terbentuk, mereka memilih identitas musik yang berpijak pada budaya Aceh, tetapi tetap dikemas dengan nuansa musik modern.
Pada April 2026, Origon meluncurkan Reusam. Lagu tersebut mengangkat nilai adat dan aturan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Aceh pada masa kerajaan.
Empat bulan kemudian, Origon memperkenalkan Meusare. Dalam bahasa Aceh, meusare bermakna bersama-sama atau bergotong royong. Tema itu diangkat dari kehidupan masyarakat Aceh yang sejak dahulu dikenal memiliki tradisi kebersamaan dan saling membantu.
Drumer sekaligus pencipta lagu Origon, Robi, mengatakan Meusare pertama kali diperkenalkan kepada publik pada malam Anugerah SMSI Aceh Award di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligo Gubernur Aceh, Banda Aceh, Sabtu (5/9/2026) malam.
“Selain diperkenalkan pada malam anugerah SMSI Aceh Award, karya terbaru di bawah naungan label musik Langitbiru Kreatif ini juga sudah dapat dinikmati di berbagai platform musik digital,” kata Robi di Banda Aceh, Minggu (13/9/2026).
Robi mengatakan, sejak berdiri, Origon konsisten mengembangkan karya musik yang mengedepankan nilai budaya Aceh. Hingga kini, mereka telah menghasilkan lima karya, yakni Wasiat, Calitra Senja, Bungong, Reusam, dan Meusare.
Namun, baru dua lagu, yakni Reusam dan Meusare, yang secara resmi diluncurkan dan dapat dinikmati masyarakat melalui berbagai platform musik digital.
Vokalis Origon, Yogi, mengatakan Meusare membawa pesan tentang pentingnya kebersamaan, persatuan, dan kepedulian di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah.
Menurut dia, nilai tersebut menjadi semakin relevan ketika masyarakat menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern yang cenderung mendorong individualisme.
“Proses pembuatan Meusare memberikan kesan tersendiri bagi kami. Lagu ini adalah pengingat bahwa sebesar apa pun tantangan yang dihadapi, semuanya terasa lebih ringan jika kita melangkah bersama-sama,” ujar Yogi.
Dalam karya terbarunya, Origon memadukan karakter musik pop-rock modern dengan lirik yang sarat makna budaya. Eksplorasi tersebut sekaligus menunjukkan perkembangan musikal Origon tanpa meninggalkan karakter yang menjadi identitas mereka sejak awal.
Kekuatan Origon terletak pada karakter vokal dan cara mereka menyampaikan pesan melalui lirik. Melalui Meusare, mereka berharap pesan kebersamaan yang terkandung dalam lagu tersebut dapat menjangkau pendengar yang lebih luas, tidak hanya di Aceh.
Gitaris Origon, Sahar, mengatakan Meusare dan Reusam kini telah tersedia di sejumlah layanan streaming musik digital, seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.
“Video musik resmi lagu ini sudah tayang dalam kanal YouTube resmi Langit Biru Production,” kata Sahar.
Sementara itu, bassis Origon, Rian, mengatakan perjalanan bermusik Origon juga menjadi bagian dari upaya mereka sebagai anak muda Aceh untuk menjaga dan memperkenalkan budaya daerah melalui medium musik.
Menurut dia, pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan melalui cara-cara konvensional. Musik dapat menjadi salah satu sarana untuk membawa nilai-nilai budaya Aceh ke ruang dengar generasi muda.
“Kalau bukan kita yang peduli terhadap budaya kita sendiri, siapa lagi,” ujar Rian.












