ACEH SELATAN, Bersuarakita – Sebanyak 25 pelajar tingkat SMA dan sederajat di Kecamatan Tapaktuan mengikuti pelatihan dasar jurnalistik untuk memperkuat kemampuan literasi, berpikir kritis, dan memahami perkembangan media di tengah pesatnya transformasi digital.
Pelatihan bertajuk Workshop Dasar Jurnalistik dan Perkembangan Media Massa dalam Menghadapi Persaingan Era Digital tersebut digelar PT Media KBB Aceh Mandiri bekerja sama dengan Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfo dan Persandian) Kabupaten Aceh Selatan serta Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Selatan.
Kegiatan berlangsung di Kantor Diskominfo dan Persandian Aceh Selatan, Tapaktuan, Rabu (9/9/2026).
Workshop secara resmi dibuka Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Selatan, Suhatril, SH, MH, yang hadir mewakili Sekretaris Daerah Aceh Selatan, Diva Samudra Putra, SE, MM.
Peserta berasal dari empat sekolah, yakni SMA Negeri Unggul Aceh Selatan, SMKN 1 Tapaktuan, SMAN 1 Tapaktuan, dan MAN 1 Tapaktuan.
Dalam sambutannya, Suhatril mengatakan perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan, dunia kerja, dan industri media.
Perubahan yang berlangsung cepat tersebut, menurut dia, menuntut generasi muda memiliki kemampuan yang tidak hanya bertumpu pada pendidikan formal dan ijazah.
“Keterampilan akan menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi perjalanan hidup di tengah kemajuan digitalisasi,” kata Suhatril.
Ia mengatakan derasnya arus informasi di ruang digital menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Pelajar dituntut tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga memahami, memilah, dan menilai kebenaran informasi yang diterima.
Menurut Suhatril, pemahaman mengenai jurnalistik menjadi penting karena dapat membantu pelajar membedakan informasi yang diproduksi melalui proses kerja jurnalistik dengan berbagai konten yang beredar bebas di media sosial.
“Hari ini adik-adik akan dibekali pemahaman dasar tentang jurnalistik dan media. Ini penting agar mampu membedakan peran media dengan media sosial,” ujarnya.
Ia menilai jurnalistik tidak semata-mata berkaitan dengan profesi wartawan. Lebih dari itu, jurnalistik dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan menulis, berkomunikasi, berpikir kritis, serta mengolah informasi secara objektif.
Keterampilan tersebut, kata Suhatril, akan tetap relevan meskipun para peserta nantinya memilih bidang profesi yang berbeda.
“Kalau hari ini adik-adik memiliki minat di bidang jurnalistik, manfaatkan kesempatan ini untuk belajar dan mengembangkan keterampilan. Profesi wartawan adalah tugas yang mulia,” katanya.
Ia juga mendorong para peserta agar tidak berhenti pada pemahaman teoritis. Ilmu yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dengan membangun budaya menulis dan mengembangkan media informasi di lingkungan sekolah.
Menurut dia, seorang penulis harus memiliki wawasan yang luas, didukung pengetahuan serta kemampuan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
Sementara itu, Direktur PT Media KBB Aceh Mandiri, Zulmahdi Chaidir, mengatakan pelatihan tersebut digelar sebagai upaya memberikan ruang belajar kepada generasi muda untuk mengenal dunia jurnalistik sejak dini.
Selain meningkatkan kemampuan menulis, kegiatan itu juga diharapkan dapat memperkuat literasi informasi para pelajar di tengah perkembangan teknologi komunikasi yang semakin cepat.
Menurut Zulmahdi, kemudahan masyarakat dalam mengakses dan menyebarkan informasi melalui berbagai platform digital harus diimbangi dengan kemampuan untuk melakukan verifikasi dan memilah informasi.
Pelajar, kata dia, perlu memahami bahwa tidak semua informasi yang beredar di ruang digital dapat langsung dipercaya atau disebarluaskan.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi momentum bagi siswa-siswi untuk tidak berhenti pada teori, tetapi mampu mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah,” kata Zulmahdi.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta mendapatkan materi dari sejumlah praktisi dan insan pers di Aceh Selatan.
Kepala Diskominfo dan Persandian Aceh Selatan, Dicky Ichwan, S.STP, memberikan pemahaman mengenai perkembangan komunikasi dan media di tengah transformasi digital.
Penasehat PWI Aceh Selatan, Masluyuddin, SE, yang telah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) jenjang Utama, turut membagikan pengalaman dan pengetahuan mengenai profesi serta kerja jurnalistik.
Sementara Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Aceh Selatan, Sudirman Hamid, yang juga anggota PWI dan pemegang sertifikat UKW jenjang Madya, menyampaikan materi tentang teori dan praktik dasar jurnalistik serta fungsi dan tujuan media.
Materi yang diberikan meliputi teknik dasar penulisan berita, pengenalan unsur-unsur jurnalistik, pengelolaan informasi, hingga pemahaman mengenai perbedaan media profesional dan media sosial.
Pelatihan berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, dan sesi tanya jawab. Para peserta diberi kesempatan untuk menggali berbagai persoalan seputar dunia jurnalistik dan perkembangan media.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal awal bagi para pelajar dalam meningkatkan kemampuan literasi serta menghadapi derasnya arus informasi di era digital.












