Banner Bersuarakita
Daerah  

Hasil Uji BBPOM Temukan Kontaminasi Bakteri, BGN Aceh Selatan Masih Bungkam

Ilustrasi

ACEH SELATAN, Bersuarakita — Koordinator Wilayah (Korwil) Kabupaten Aceh Selatan, Yona Violiska, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi wartawan terkait tindak lanjut hasil uji laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) terhadap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Padang Asahan.

Wartawan telah melayangkan pertanyaan resmi guna meminta klarifikasi mengenai respons BGN atas temuan kontaminasi bakteri dalam makanan MBG tersebut. Pertanyaan juga mencakup kemungkinan evaluasi hingga penghentian sementara operasional dapur MBG di lokasi dimaksud. Namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum merespons.

Minimnya tanggapan dari pihak terkait memunculkan perhatian publik, terutama terkait aspek transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan isu keamanan pangan yang berdampak langsung pada masyarakat.

Sejumlah Jurnalis menyatakan akan terus berupaya melakukan konfirmasi lanjutan guna memperoleh keterangan resmi dan berimbang. Hingga saat ini, belum ada penjelasan dari BGN Aceh Selatan mengenai tindak lanjut hasil uji laboratorium maupun langkah yang akan diambil.

Sebelumnya, Ketua Satgas MBG Aceh Selatan, Diva Samudra Putra, mengungkapkan bahwa hasil uji laboratorium terhadap lima sampel makanan dari SPPG Padang Asahan menunjukkan sebagian tidak memenuhi standar keamanan pangan.

“Ditemukan kontaminasi mikroba seperti Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Salmonella,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (17/3/2026).

Peristiwa ini bermula pada Jumat (27/2/2026) sekitar pukul 00.30 WIB, ketika 18 orang mendatangi IGD Puskesmas Ujung Padang Rasian, Kecamatan Pasie Raja, dengan keluhan mual, muntah, diare, pusing, dan sakit perut. Para pasien kemudian didiagnosis mengalami gastroenteritis akut (GEA).

Dinas Kesehatan Aceh Selatan langsung melakukan investigasi dengan meninjau fasilitas kesehatan serta dapur SPPG Padang Asahan yang diketahui mendistribusikan sekitar 3.000 porsi makanan ke sejumlah sekolah di wilayah tersebut.

Hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan para pasien memiliki riwayat mengonsumsi makanan dari program MBG yang dibagikan sehari sebelumnya, Kamis (26/2/2026). Sampel makanan dan minuman kemudian diuji di BBPOM Banda Aceh, dengan hasil ditemukan cemaran bakteri yang berpotensi menyebabkan gangguan saluran pencernaan.

Secara umum, bakteri seperti Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Salmonella kerap muncul pada makanan yang tidak diolah secara higienis, tidak dimasak dengan sempurna, atau disimpan pada suhu yang tidak sesuai.

Meski demikian, pihak berwenang hingga kini belum menyimpulkan secara pasti sumber utama kontaminasi dan masih melakukan pendalaman lebih lanjut.

Paparan bakteri tersebut diketahui dapat memicu gejala keracunan makanan seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut, bahkan dalam kondisi tertentu dapat disertai demam dan memerlukan penanganan medis.

Satgas MBG Aceh Selatan menegaskan bahwa hasil uji laboratorium ini akan menjadi dasar evaluasi bagi seluruh pihak terkait dalam pelaksanaan program MBG ke depan.

“Temuan ini menjadi bahan masukan bagi instansi dan pengambil kebijakan sesuai kewenangannya,” kata Diva.