ACEH SELATAN,Bersuarakita – Proyek besar Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMdesMa) yang digagas oleh 16 gampong di Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, dan diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat, kini justru menjadi sorotan. Bangunan yang dibangun sejak tahun 2023 itu hingga saat ini belum dapat dioperasikan dan terancam terbengkalai akibat terhentinya dukungan pendanaan.
Proyek yang berlokasi di Gampong Jambo Apha tersebut semula dirancang sebagai unit usaha pengolahan dan penjualan air minum dalam kemasan. Program itu diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekaligus meningkatkan pendapatan desa untuk mendukung pembangunan dan kesejahteraan warga.
Namun, harapan tersebut belum terwujud. Setelah proses pembangunan mencapai sekitar 80 persen, pengerjaan proyek terhenti total. Ironisnya, bangunan yang telah menghabiskan anggaran ratusan juta rupiah itu kini tidak lagi difungsikan sesuai tujuan awal, melainkan digunakan sebagai tempat latihan grup musik hingga lokasi karaoke oleh warga sekitar.
Kondisi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kejelasan nasib proyek yang dibangun melalui kerja sama 16 desa tersebut.
Ketua Forum Keuchik Kecamatan Tapaktuan sekaligus Keuchik Gampong Jambo Apha, Sarifuddin, saat dikonfirmasi pada Selasa (30/6/2026), mengaku belum mengetahui secara rinci terkait kondisi dan perkembangan proyek BUMdesMa tersebut.
Ia menjelaskan, sejak ditunjuk sebagai Ketua Forum Keuchik pada April 2026, belum pernah ada rapat ataupun pembahasan khusus terkait kelanjutan proyek tersebut.
“Saya belum mengetahui apa-apa secara pasti terkait bangunan ini. Sejak ditunjuk sebagai Ketua Forum Keuchik, belum pernah ada pertemuan atau rapat yang membahas masalah BUMdesMa yang ada di wilayah Gampong Jambo Apha ini,” ujar Sarifuddin.
Menurutnya, hingga kini dirinya juga belum menerima Surat Keputusan (SK) resmi pengangkatan maupun pelaksanaan serah terima jabatan dari kepengurusan sebelumnya. Kondisi tersebut membuatnya belum memiliki akses terhadap data administrasi, dokumen teknis, maupun laporan keuangan proyek.
“Jadi saya benar-benar belum mengetahui bagaimana kondisi bangunan tersebut secara mendetail, apa saja peralatan yang dibutuhkan, serta berapa besar kekurangan dana yang sebenarnya diperlukan agar proyek ini bisa selesai dan berjalan,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Tapaktuan, Muflizar, mengatakan bahwa kendala utama yang menyebabkan BUMdesMa tersebut belum dapat beroperasi adalah terhentinya aliran pendanaan akibat perubahan dan pemotongan anggaran desa.
Menurutnya, pada tahap awal pembangunan, seluruh desa yang tergabung telah memberikan kontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Gampong Jambo Apha menyumbang dana sebesar Rp50 juta, sedangkan desa lainnya rata-rata memberikan kontribusi sekitar Rp20 juta per desa.
Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan kebijakan penganggaran desa berdampak langsung terhadap kemampuan desa untuk melanjutkan pembiayaan proyek tersebut.
“Dulu saat dimulai, kesepakatan kontribusi berjalan. Namun belakangan terjadi pemotongan anggaran di setiap desa, sehingga kemampuan untuk mendanai proyek ini berkurang drastis,” kata Muflizar.
Ia menjelaskan, untuk menyelesaikan pembangunan sekaligus melengkapi peralatan produksi air minum kemasan, dibutuhkan tambahan anggaran sekitar Rp350 juta.
Namun, hasil musyawarah bersama seluruh perwakilan gampong menunjukkan bahwa kemampuan keuangan desa saat ini hanya memungkinkan kontribusi sekitar Rp3 juta per desa, jumlah yang dinilai masih sangat jauh dari kebutuhan riil proyek.
Terkait penggunaan sementara bangunan sebagai lokasi latihan band dan aktivitas hiburan, Muflizar membenarkan bahwa pemanfaatan tersebut dilakukan setelah adanya permohonan izin dari masyarakat.
Menurutnya, selama penggunaan sementara itu tidak mengganggu ketertiban umum, tidak merusak fasilitas bangunan, serta tetap menjaga kebersihan dan keamanan, maka hal tersebut masih dapat ditoleransi.
“Memang ada kelompok warga yang meminta izin untuk memakai tempat ini sebagai tempat latihan band. Selama tidak mengganggu orang banyak dan menjaga kebersihan serta keamanan bangunan, untuk saat ini saya rasa tidak ada masalah,” pungkasnya.
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai sumber pendanaan lanjutan maupun langkah konkret yang akan ditempuh untuk menyelamatkan proyek BUMdesMa yang digagas sebagai simbol kemandirian ekonomi 16 desa di Kecamatan Tapaktuan tersebut.












