ACEH SELATAN,Bersuarakita – Menjelang siang, ketika matahari mulai meninggi di langit Tapaktuan, suara klakson sepeda motor Arbaini perlahan memecah keheningan jalan. Di belakang motornya, sebuah etalase sederhana berisi bakso bakar, tahu, tempe, bakwan, sosis telur siap memanjakan lidah pelanggan.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya jajanan kaki lima. Namun, bagi Arbaini, setiap tusuk yang terjual adalah sumber kehidupan bagi keluarganya.
Selama 13 tahun terakhir, warga Gampong Lhok Bengkuang, Aceh Selatan, itu tidak pernah lelah menjalani rutinitas yang sama. Setiap hari sekitar pukul 10.00 WIB, ia meninggalkan rumah untuk berkeliling menjajakan dagangannya. Perjalanan baru berakhir menjelang Magrib, sekitar pukul 18.00 WIB.
“Alhamdulillah, hampir selalu habis,” ucap Arbaini dengan wajah penuh syukur kepada bersuarakita.id.
Dalam sehari, ia membawa sekitar 300 tusuk tahu, tempe, dan bakwan, serta 200 tusuk bakso bakar. Tahu, tempe, bakwan, sosis, dan telur dijual seharga Rp2.000 per tusuk, sedangkan bakso bakar dijual Rp1.000 per tusuk. Harga yang tetap ramah di kantong membuat dagangannya digemari anak-anak hingga orang dewasa.
Di tengah naiknya harga tepung, arang, dan berbagai kebutuhan produksi, Arbaini harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan. Keuntungan yang diperoleh tidak sebesar yang dibayangkan banyak orang.
Omzet kotor yang diperolehnya berkisar Rp600.000 per hari. Dari penghasilan itulah ia membiayai kebutuhan rumah tangga sekaligus membesarkan empat orang anak.
Tak ada keluhan panjang yang keluar dari bibirnya. Baginya, bekerja adalah kewajiban, sementara rezeki adalah urusan Allah SWT.
Di jalan-jalan yang setiap hari ia lewati, Arbaini telah menjadi sosok yang akrab bagi banyak warga. Anak-anak sering menunggu kedatangannya sepulang sekolah. Tak sedikit pelanggan yang sudah mengenalnya selama bertahun-tahun dan tetap setia membeli dagangannya.
Kesetiaan pelanggan itu lahir bukan semata karena rasa bakso bakarnya, melainkan juga karena ketekunan seorang pedagang yang tak pernah berhenti berusaha.
Setiap tusuk bakso yang dibakar di atas bara api menyimpan cerita tentang kerja keras. Setiap kepulan asap yang mengepul membawa harapan agar dagangan hari itu habis sebelum senja tiba.
Bagi Arbaini, kesuksesan bukan diukur dari besarnya keuntungan, melainkan ketika ia bisa pulang membawa rezeki yang cukup untuk keluarga. Senyum keempat anaknya menjadi alasan mengapa ia terus menghidupkan bara bakaran setiap pagi.
Di tengah perubahan zaman dan persaingan usaha yang semakin ketat, kisah Arbaini menjadi pengingat bahwa semangat, kejujuran, dan ketekunan masih menjadi modal paling berharga untuk bertahan.
Karena di balik gerobak sederhana dan aroma bakso bakar yang menggoda, ada seorang ayah yang setiap hari mengayuh harapan, satu tusuk demi satu tusuk, untuk masa depan keluarganya.












