ACEH SELATAN, Bersuarakita– Keberadaan Pos Pemadam Kebakaran (Damkar) induk di Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, dinilai memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di jalur nasional serta didukung akses sumber air yang memadai untuk kebutuhan pemadaman.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan, H. Zainal A, mengatakan bahwa keberadaan pos damkar tidak bisa disamakan dengan gedung pemerintahan pada umumnya. Menurut dia, aspek utama yang harus diprioritaskan adalah ketersediaan sumber air, kemudahan akses jalur, serta kecepatan waktu tanggap (response time).
“Prioritas utama itu sumber air, jalur yang cepat dilalui, dan respon time dalam penanganan kebakaran,” ujar Zainal saat diwawancarai di Tapaktuan, Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan, Pos Damkar induk yang berlokasi di Lhok Bengkuang tersebut berfungsi sebagai pusat kendali penanggulangan bencana, khususnya kebakaran. Di lokasi itu, tersedia tiga unit armada pemadam, alat berat, truk, rubber boat, serta perlengkapan penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Sebanyak 24 personel disiagakan di pos tersebut dan dibagi dalam dua regu, masing-masing beranggotakan 12 orang. Sistem siaga ini diterapkan untuk memastikan respons cepat dalam kondisi darurat.
Menurut Zainal, salah satu keunggulan utama pos damkar tersebut adalah keberadaan bunker air bawah tanah yang mampu memenuhi kebutuhan pengisian armada. Bahkan saat musim kemarau, ketersediaan air di lokasi itu tetap terjaga.
“Untuk mengisi tangki armada pemadam, hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit hingga penuh,” katanya.
Selain itu, posisi pos yang berada di jalur nasional dinilai memberikan kemudahan akses menuju berbagai wilayah di Tapaktuan tanpa hambatan berarti. Kondisi ini menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan kebakaran.
Ia menambahkan, faktor sumber air dan akses jalan yang memadai menjadi hal yang sulit ditemukan jika harus mencari lokasi pengganti.
“Kalau sumber air sulit dan jalan sempit, maka upaya pemadaman tidak akan maksimal,” ujarnya.
Tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pemadaman, air dari bunker tersebut juga kerap digunakan untuk kepentingan umum, termasuk oleh Masjid Istiqlal Tapaktuan, terutama saat musim kemarau.
Sementara itu, seorang warga Tapaktuan menilai keberadaan pos damkar induk di lokasi saat ini sudah tepat. Ia berharap pemerintah daerah dapat mempertahankan lokasi tersebut dan fokus pada peningkatan sarana dan prasarana.
“Penanggulangan kebakaran itu sifatnya mendesak. Yang penting akses cepat dan fasilitas memadai,” katanya.
Warga juga mengingatkan agar lokasi pos damkar tidak dialihfungsikan untuk kepentingan lain, mengingat peran vitalnya dalam mendukung keselamatan masyarakat.













