Banner Bersuarakita
Daerah  

Potret Ketangguhan Warga Gayo Lues, Salurkan MBG dengan Tandu Bambu di Tengah Bencana

GAYO LUES,Bersuarakita – Bencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Gayo Lues tidak menghentikan upaya warga Dusun Benteng, Desa Pertik, Kecamatan Pining, dalam memastikan pemenuhan gizi anak-anak. Di tengah akses terputus dan infrastruktur rusak, warga tetap mendistribusikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyeberangi arus sungai yang deras.

Dusun Benteng merupakan wilayah pegunungan terpencil dengan keterbatasan akses. Kondisi tersebut kian memburuk setelah bencana alam merusak lahan pertanian dan memutus jembatan kecil yang selama ini menjadi satu-satunya penghubung mobilitas warga. Dampaknya, berbagai aktivitas masyarakat terganggu.

Meski demikian, aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di dusun tersebut tetap berjalan. Di tengah keterbatasan peralatan dan kerusakan bangunan, para kader relawan bersama ibu-ibu setempat terus memasak makanan bergizi setiap hari.

Menu yang disiapkan memenuhi standar gizi, kemudian dikemas dalam wadah untuk didistribusikan kepada anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita sebagai penerima manfaat program MBG.

Tantangan terbesar muncul pada proses distribusi. Seluruh penerima manfaat berada di seberang sungai, sementara jembatan penghubung telah hanyut akibat banjir.

Sebagai solusi, warga secara swadaya merakit tandu sederhana dari bambu. Ratusan paket makanan diikat di atas tandu tersebut, lalu dipikul secara bergotong royong. Para relawan harus berjalan menembus aliran sungai dengan penuh kehati-hatian demi memastikan bantuan sampai tepat waktu.

Upaya kolektif ini memastikan program MBG tetap berjalan meski wilayah dalam kondisi terisolasi. Anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di seberang sungai tetap menerima asupan gizi secara rutin.

Kisah dari Dusun Benteng menjadi gambaran nyata bahwa program Makan Bergizi Gratis mampu menjangkau masyarakat hingga ke wilayah dengan kondisi geografis sulit dan terdampak bencana. Dedikasi para relawan dan warga menjadi bagian penting dalam mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Generasi Emas Indonesia 2045, dengan prinsip tidak ada anak yang tertinggal dalam pemenuhan gizi.