ACEH SELATAN,Bersuarakita – Budidaya durian premium mulai dikembangkan di kawasan Bukit Jambo Papeun, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan. Lebih dari 370 pohon dari sejumlah varietas unggulan ditanam di dua lokasi yang kini dalam tahap perawatan dan pengembangan.
Pengelolaan kebun tersebut melibatkan Wak Anto Sembiring (42), tenaga ahli asal Kota Binjai, Sumatera Utara. Ia menangani berbagai aspek perawatan tanaman, mulai dari pemupukan, penyiraman, pemangkasan hingga pengendalian hama.
Saat ditemui di lahan Alue Meurante, Gampong Jambo Papeun, Selasa (11/8/2026) sore, Wak Anto mengatakan sekitar 170 pohon durian telah tumbuh di lahan seluas hampir satu hektare.
“Di lahan seluas hampir satu hektare ini sudah tumbuh subur kurang lebih 170 batang durian premium dari beberapa jenis. Kebun satu lagi baru selesai ditanam beberapa bulan lalu. Di sana ada lebih dari 200 batang,” ujar Wak Anto.
Jika digabungkan, jumlah tanaman di dua lokasi tersebut mencapai lebih dari 370 batang.
Menurut dia, bibit yang digunakan merupakan bibit vegetatif unggulan yang didatangkan dari pembibitan di Kota Binjai.
Wak Anto mengatakan kondisi tanaman saat pertama kali ditanganinya tidak dalam keadaan optimal.
Sekitar 170 pohon yang kini tumbuh subur, kata dia, sebelumnya berada dalam kondisi memprihatinkan.
“Sebelum saya rawat, 170 batang durian di sini kondisinya sekarat dan nyaris tinggal ranting,” katanya.
Perawatan kemudian dilakukan secara bertahap. Selain pemupukan dan penyiraman, tanaman rutin dipangkas untuk menjaga pertumbuhan serta mendapatkan penanganan terhadap potensi serangan hama.
Hasilnya, kondisi tanaman mulai membaik. Sejumlah pohon bahkan diperkirakan memasuki fase pembungaan dan produksi dalam waktu dekat.
Wak Anto dipercaya sebagai tenaga ahli oleh pemilik kebun yang disebutnya merupakan seorang tenaga medis di Tapaktuan.
Sebelum menangani kebun di Aceh Selatan, Wak Anto telah memiliki pengalaman merawat durian premium di Kota Binjai.
Kebun di Jambo Papeun tidak hanya mengembangkan satu jenis durian. Sejumlah varietas premium ditanam di kawasan tersebut.
Di antaranya Super Tembaga, Ochee atau Black Thorn (Duri Hitam), Montong, Musang King, Namlung, Non Biji, dan Kani (Chanee).
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Super Tembaga, varietas yang disebut berasal dari Bangka Belitung.
Menurut Wak Anto, varietas tersebut memiliki karakter buah berukuran besar dengan daging berwarna kuning-oranye, tekstur lembut dan tebal, serta rasa manis yang berpadu sedikit pahit.
“Kalau jenis Super Tembaga bisa mencapai Rp1 juta per buah. Jenis ini banyak diburu penggemar dan relatif mudah dipasarkan,” ujarnya.
Varietas Musang King juga dikembangkan di kebun tersebut. Durian ini dikenal memiliki daging berwarna kuning kunyit dengan tekstur creamy dan cita rasa manis serta pahit yang khas.
Sementara itu, Montong dikenal memiliki buah berukuran besar dengan daging tebal dan rasa manis.
Ada pula varietas Namlung yang disebut berasal dari Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.
Wak Anto memperkirakan sejumlah tanaman di kebun tersebut mulai berbunga dalam waktu dekat, meski waktu pastinya bergantung pada kondisi tanaman dan faktor lingkungan.
“Insyallah, dalam waktu dekat beberapa tanaman akan mulai berbunga. Semoga menjadi berkah dan bisa segera memetik hasilnya,” katanya.
Pengembangan kebun tersebut menunjukkan mulai munculnya minat terhadap budidaya durian premium di Aceh Selatan. Namun, tanaman yang masih dalam tahap pertumbuhan membutuhkan perawatan berkelanjutan sebelum dapat menghasilkan buah secara optimal.












