Daerah  

Rawa Singkil Bukan Sekadar Hutan, HAkA dan MAA Perkuat Narasi Perlindungan Lewat Buku

BANDA ACEH,Bersuarakita – Suaka Margasatwa Rawa Singkil selama ini dikenal sebagai habitat orangutan Sumatera dengan kepadatan tertinggi di dunia. Namun bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya, kawasan rawa gambut tersebut bukan hanya tempat hidup satwa liar, melainkan juga sumber kehidupan, identitas budaya, dan warisan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Kesadaran akan pentingnya menjaga kawasan itu mendorong Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) bersama Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Singkil menggelar diskusi buku berjudul “Rawa Singkil Adalah Hidup Kami” di Hotel Ayani, Banda Aceh, Kamis (25/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi berbagai pihak untuk memberikan masukan terhadap naskah buku sebelum diterbitkan kepada publik. Buku tersebut mendokumentasikan sejarah, kondisi ekologis, nilai sosial budaya, kearifan lokal masyarakat, hingga berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjaga Suaka Margasatwa Rawa Singkil sebagai bagian penting dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Manager Legal dan Advokasi Non-Litigasi HAkA, Nurul Ikhsan, mengatakan buku tersebut disusun sebagai upaya merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap pentingnya Rawa Singkil sebagai kawasan konservasi yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan budaya yang tinggi.

“SM Rawa Singkil bukan sekadar kawasan hutan rawa gambut, tetapi ruang hidup bagi masyarakat dan habitat penting bagi keanekaragaman hayati. Melalui buku ini, kami ingin menghadirkan perspektif masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan tersebut sekaligus memperkuat upaya perlindungannya,” kata Ikhsan.

Selain menjadi habitat penting bagi orangutan Sumatera, kawasan Rawa Singkil juga berfungsi sebagai penyimpan air, pengendali banjir, serta penyerap karbon yang berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Kawasan ini turut menopang kehidupan masyarakat yang menggantungkan berbagai aktivitasnya pada keberadaan ekosistem rawa gambut tersebut.

Namun di balik perannya yang vital, Rawa Singkil masih menghadapi berbagai ancaman. Perambahan kawasan, ekspansi perkebunan kelapa sawit, hingga berkurangnya tutupan hutan dalam beberapa tahun terakhir menjadi persoalan yang terus membayangi keberlanjutan kawasan konservasi tersebut.

Penulis buku, Ahmady, menjelaskan bahwa buku tersebut tidak hanya menggambarkan kondisi terkini Rawa Singkil, tetapi juga memuat berbagai aspek yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.

“Buku ini memuat potensi ancaman yang dihadapi, ragam kearifan lokal dan pergeseran budaya, perjuangan masyarakat menjaga ekosistem, kampanye pelestarian, hingga peringatan terhadap banyaknya korporasi yang mengincar kekayaan alam di kawasan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua MAA Kabupaten Aceh Singkil, Zakirun Pohan, menilai buku tersebut penting untuk memperdalam pemahaman publik mengenai sejarah dan budaya masyarakat yang memiliki keterkaitan erat dengan Rawa Singkil.

Menurutnya, upaya pelestarian kawasan harus dilakukan melalui pengelolaan yang lebih terintegrasi, termasuk pengaturan akses masuk kawasan dan penguatan prinsip-prinsip konservasi berbasis adat.

“Semangat pelestarian harus diwujudkan melalui gerakan menanam kembali pohon untuk setiap pohon yang ditebang sebagai bentuk tanggung jawab ekologis bersama,” kata Zakirun.

Ia juga menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat pemegang hak ulayat dalam pengelolaan dan pengawasan kawasan. Menurutnya, masyarakat lokal merupakan pihak yang paling memahami kondisi lapangan dan dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga Rawa Singkil dari berbagai ancaman.

“Pelestarian Rawa Singkil tidak akan berhasil tanpa keterlibatan masyarakat adat dan pemilik hak ulayat sebagai bagian utama dari sistem pengelolaan kawasan,” tegasnya.

Diskusi tersebut diikuti perwakilan organisasi masyarakat sipil, akademisi, lembaga konservasi, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta mahasiswa. Berbagai masukan disampaikan peserta, mulai dari penguatan data, substansi, sistematika penulisan, hingga perspektif sosial dan budaya yang perlu diperdalam dalam naskah buku.

Melalui penyusunan buku tersebut, HAkA berharap lahir rekomendasi yang dapat memperkaya isi buku sekaligus memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam mendorong perlindungan dan pelestarian Rawa Singkil secara berkelanjutan.

“Menjaga Rawa Singkil berarti menjaga keanekaragaman hayati, kearifan lokal, serta masa depan masyarakat yang bergantung pada bentang alam tersebut. Buku ini diharapkan menjadi media edukasi dan advokasi yang dapat memperluas kepedulian publik terhadap pentingnya perlindungan Rawa Singkil,” tutup Ikhsan.