MEULABOH,Bersuarakita — Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mulai mengerjakan perbaikan Jembatan Jambak–Canggai di Kecamatan Pante Ceureumen yang rusak berat akibat banjir pada akhir 2025.
Kerusakan jembatan tersebut sempat menyulitkan akses warga, terutama anak-anak Desa Canggai yang bersekolah di Desa Jambak. Sebagian orang tua bahkan memilih menyeberangkan anak mereka melalui sungai saat musim kemarau karena harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh.
Bupati Aceh Barat Tarmizi SP MM mengatakan, pemerintah daerah kini melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) telah memulai pekerjaan perbaikan jembatan tersebut.
“Orang tua murid lebih memilih menyeberangi sungai saat musim kemarau sehingga viral di media sosial. Sambil menunggu pekerjaan perbaikan jembatan Jambak–Canggai yang diperkirakan berlangsung selama tiga bulan, pemerintah akan menyediakan mobil angkutan khusus antar-jemput bagi siswa,” kata Tarmizi, Rabu (22/7/2026).
Tarmizi meminta para orang tua tidak lagi mengambil risiko dengan menyeberangkan anak-anak mereka melalui sungai untuk pergi ke sekolah.
Menurut dia, kondisi sungai memang terlihat aman saat musim kemarau. Namun, risiko tetap ada, terutama apabila terjadi perubahan cuaca dan peningkatan debit air secara tiba-tiba.
“Bagi kita di gampong mungkin hal seperti itu biasa, berani menyeberangi sungai saat musim kemarau. Tetapi bagi masyarakat yang tidak pernah melihat kondisi seperti itu, tentu akan menimbulkan berbagai komentar,” ujarnya.
Tarmizi menegaskan, Pemkab Aceh Barat tidak mengabaikan kebutuhan masyarakat, terlebih akses pendidikan anak-anak.
Dia menjelaskan, keterlambatan perbaikan jembatan terjadi karena pemerintah daerah sebelumnya menghadapi keterbatasan anggaran pascabencana. Pengembalian dana transfer ke daerah (TKD) dari pemerintah pusat pada April 2026 juga membutuhkan proses penganggaran dan perencanaan sebelum pekerjaan dapat dilaksanakan.
“Pekerjaan harus ditentukan sesuai anjuran teknis kementerian, kemudian dilakukan tender perencanaan dan tender pekerjaan fisik. Karena nilainya di atas Rp400 juta, harus melalui tender. Untuk rehab jembatan ini nilainya sekitar Rp1 miliar,” kata Tarmizi.
Dia memastikan perbaikan Jembatan Jambak–Canggai ditargetkan rampung tahun ini. Dengan demikian, para siswa diharapkan dapat kembali menggunakan jembatan tersebut untuk bersekolah tanpa harus menyeberangi sungai.
Selain Jembatan Jambak–Canggai, Pemkab Aceh Barat juga mengusulkan pembangunan kembali Jembatan Sikundo yang putus total akibat bencana.
Menurut Tarmizi, kebutuhan anggaran pembangunan Jembatan Sikundo diperkirakan mencapai sekitar Rp4 miliar. Data kerusakan dan kebutuhan anggaran telah diminta oleh Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi pemerintah pusat.
“Insyaallah Jembatan Sikundo akan dibangun oleh Polda Aceh. Sumber dananya bukan dari dana Rehab Rekon dan bukan dari dana TKD,” ujarnya.
Tarmizi menambahkan, penanganan wilayah terdampak bencana menjadi salah satu fokus utama Pemkab Aceh Barat tahun ini. Program tersebut mencakup rehabilitasi jembatan, pengamanan tebing sungai, pembangunan kantor keuchik, jalan penghubung, hingga pembangunan box culvert.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan infrastruktur sekaligus mencegah masyarakat kembali terisolasi ketika bencana banjir terjadi.












