PIDIE JAYA, Bersuarakita – Di tengah upaya pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda akhir 2025 lalu, sektor pertanian Kabupaten Pidie Jaya justru menunjukkan sinyal kebangkitan. Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya mencatat produktivitas padi terus mengalami peningkatan, bahkan hasil panen rata-rata musim rendengan dan gadu mencapai 7,19 ton per hektar.
Hal tersebut disampaikan Bupati Pidie Jaya H. Sibral Malasyi melalui Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya, M. Nur, didampingi Ketua Tim Kerja Khalil, saat memaparkan perkembangan luas tanam dan hasil panen padi di daerah tersebut.
Menurut M. Nur, luas tanam musim rendengan Oktober 2025 hingga April 2026 mencapai 7.021 hektar. Sementara total panen pada periode Februari hingga April 2026 tercatat seluas 1.549 hektar.
“Meski sempat terdampak bencana hidrometeorologi, produktivitas padi di Pidie Jaya tetap menunjukkan tren positif. Rata-rata hasil ubinan Januari hingga April mencapai 7,19 ton per hektar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bencana banjir dan kerusakan infrastruktur pertanian pada akhir tahun lalu menyebabkan terjadinya pergeseran musim tanam di sejumlah wilayah. Sedikitnya 526 hektar lahan di Kecamatan Meurah Dua, Meureudu, dan Ulim mengalami keterlambatan tanam.
“Seharusnya April sudah masuk musim tanam gadu, namun karena proses pemulihan pascabencana masih berlangsung, jadwal tanam ikut bergeser. Meski begitu, saat ini sudah ada penanaman baru sekitar 95 hektar untuk musim gadu,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Pemkab Pidie Jaya mengklaim capaian produktivitas pertanian terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, Kabupaten Pidie Jaya pernah menerima piagam penghargaan dari Kementerian Pertanian RI pada peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun 2024 di Istana Negara.
Prestasi itu, kata M. Nur, tidak lepas dari kerja keras para penyuluh pertanian yang terus melakukan pendampingan dan pembinaan kepada petani di lapangan.
“Keberhasilan ini lahir dari kolaborasi petani dan para penyuluh pertanian yang terus bekerja mendampingi masyarakat. Di tengah situasi sulit pascabencana, petani tetap mampu bangkit dan menjaga produksi pangan daerah,” ungkapnya.
Pemerintah daerah kini terus mendorong percepatan pemulihan sektor pertanian, terutama normalisasi irigasi dan pemulihan lahan terdampak banjir, agar target produksi pangan tahun 2026 tetap tercapai dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga.












