ACEH SELATAN, Bersuarakita – Pelaksanaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026 cabang Komik Digital di Kabupaten Aceh Selatan menuai sorotan publik setelah muncul dugaan ketidaktransparanan penilaian hingga isu penggunaan gambar berbasis Artificial Intelligence (AI) oleh salah satu peserta.
Ajang yang digelar pada 29 April 2026 di SMKN 1 Tapaktuan itu awalnya diharapkan menjadi ruang kompetisi kreatif bagi pelajar tingkat SMA dan SMK. Namun, hasil penilaian lomba kini memicu polemik di kalangan peserta, orang tua, hingga pendamping sekolah.
Kontroversi mencuat setelah beredarnya sejumlah unggahan di media sosial dan video yang mempertanyakan hasil penjurian lomba Komik Digital FLS3N 2026. Beberapa peserta mengaku kecewa lantaran karya yang dinilai memiliki kualitas visual dan kreativitas lebih baik justru tidak berhasil meraih posisi juara.
Polemik semakin berkembang setelah muncul dugaan bahwa karya yang meraih juara pertama terindikasi menggunakan unsur gambar berbasis AI. Dugaan tersebut memicu reaksi dari sejumlah orang tua peserta maupun pemerhati seni digital di daerah tersebut.
Salah seorang sumber yang enggan disebutkan namanya menilai panitia perlu membuka indikator penilaian secara transparan agar tidak menimbulkan kesan ketidakadilan.
“Kalau memang penilaiannya profesional, seharusnya indikator penilaian dibuka secara terang-benderang. Jangan sampai ajang seni pelajar malah meninggalkan kesan tidak adil dan mencederai semangat kompetisi,” ujarnya, Kamis (7/5/2026)
FLS3N tingkat Kabupaten Aceh Selatan sendiri berlangsung di beberapa lokasi, di antaranya SMA Negeri 1 Tapaktuan dan SMKN 1 Tapaktuan, dengan melibatkan peserta dari berbagai sekolah di Aceh Selatan.
Sorotan juga datang dari Yudha Mandra Wijaya, orang tua salah satu peserta lomba Komik Digital. Ia mempertanyakan objektivitas dewan juri dalam menentukan pemenang.
“Saya mempertanyakan dari sisi mana karya anak kami bisa kalah. Kalau dibandingkan secara kasat mata antara karya juara satu dan juara dua, perbedaannya sangat jauh. Justru karya yang menjadi juara satu terindikasi mengambil gambar dari AI,” kata Yudha kepada wartawan.
Menurut dia, persoalan tersebut bukan semata-mata soal hasil lomba, melainkan menyangkut integritas kompetisi pelajar dan nama baik daerah di tingkat provinsi.
“Jangan sampai Aceh Selatan menjadi bahan malu di tingkat provinsi karena yang dikirim nanti justru karya yang diduga bukan murni hasil kreativitas peserta,” tambahnya.
Menanggapi tudingan tersebut, salah satu dewan juri, Anggi dari SMKN Labuhan Haji Timur, membantah adanya unsur ketidakadilan dalam proses penilaian.
Ia menegaskan seluruh tahapan penjurian telah dilakukan sesuai petunjuk teknis (juknis) dan aturan resmi perlombaan.
“Tidak ada niat kami menjatuhkan salah satu peserta. Penilaian dilakukan sesuai juknis dan ketentuan yang sudah ditetapkan,” ujar Anggi.
Meski demikian, polemik terkait hasil lomba masih terus bergulir. Sejumlah pihak mendesak panitia FLS3N Aceh Selatan membuka hasil dan indikator penilaian secara lebih transparan guna menjaga kepercayaan publik terhadap ajang pembinaan seni dan kreativitas pelajar tersebut.












