Dirut BPJS Kesehatan Ajak Media Perkuat Kepercayaan Publik terhadap Program JKN

Keterangan foto: Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menyerahkan penghargaan kepada pemenang Lomba Karya Jurnalistik BPJS Kesehatan 2026 kategori televisi.

JAWA BARAT, Bersuarakita – Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menegaskan pentingnya peran media dalam memperkuat literasi sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Hal itu disampaikan Prihati dalam sambutannya pada malam penganugerahan Lomba Karya Jurnalistik dan Kurasi JKN Award BPJS Kesehatan 2026 yang berlangsung di Bogor, Rabu (16/9/2026) malam. Kegiatan tersebut diikuti secara daring oleh sejumlah jurnalis, termasuk jurnalis dari Aceh Selatan.

Menurut Prihati, media merupakan salah satu unsur penting dalam konsep pentahelix penyelenggaraan JKN. Selain media, unsur tersebut mencakup pemerintah, peserta, pelaku usaha, dan akademisi.

Kolaborasi antarpemangku kepentingan, kata dia, dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan sekaligus meningkatkan kualitas penyelenggaraan Program JKN.

“Media adalah mitra strategis dalam membangun literasi publik,” ujar Prihati.

Ia mengatakan, skala Program JKN saat ini sangat besar. BPJS Kesehatan memberikan perlindungan kepada sekitar 285 juta peserta dengan dukungan sekitar 32.000 fasilitas kesehatan tingkat pertama dan 3.200 rumah sakit.

Dengan cakupan tersebut, pelayanan kesehatan melalui Program JKN mencapai sekitar dua juta kunjungan setiap hari.

Prihati menilai besarnya cakupan JKN membutuhkan kecerdasan kolektif dan konektivitas yang baik di antara seluruh pemangku kepentingan.

Dalam konteks tersebut, media diharapkan dapat menyampaikan informasi mengenai JKN secara proporsional dan berbasis fakta. Media juga dinilai memiliki peran sebagai jembatan antara penyelenggara program dan masyarakat, termasuk dalam menyampaikan aspirasi maupun persoalan yang dihadapi peserta.

Menurut Prihati, pemberitaan yang edukatif diperlukan agar masyarakat memahami bahwa pelayanan kesehatan dalam Program JKN diberikan berdasarkan kebutuhan medis dan standar pelayanan kesehatan.

Dengan demikian, pelayanan tidak semata-mata ditentukan berdasarkan keinginan peserta.

Selain memperkuat komunikasi publik, BPJS Kesehatan juga mendorong perubahan paradigma penyelenggaraan JKN, dari orientasi volume layanan menuju pendekatan value based.

“Yang kita diskusikan bukan hanya berapa banyak layanan yang dapat kita biayai, tetapi seberapa baik outcome kesehatan yang dapat kita hasilkan dari setiap pelayanan tersebut,” katanya.

Pendekatan tersebut, lanjut Prihati, berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas layanan sekaligus memberikan perlindungan finansial kepada peserta. Pada saat yang sama, pendekatan itu diharapkan dapat menjaga keberlanjutan Program JKN dalam jangka panjang.

Prihati juga menyoroti pentingnya komunikasi publik dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Program JKN.

Ia mencontohkan informasi mengenai pelayanan JKN yang viral di media sosial dapat berkembang menjadi persepsi yang lebih luas apabila tidak disertai informasi dan penjelasan yang utuh.

Karena itu, BPJS Kesehatan mengajak media untuk terus mengangkat fakta mengenai manfaat Program JKN tanpa mengabaikan berbagai persoalan yang masih membutuhkan perbaikan.

Media, kata dia, tetap diharapkan menjalankan fungsi kontrol secara kritis sekaligus konstruktif.

Prihati mengatakan, dalam beberapa bulan terakhir terdapat sejumlah isu terkait JKN yang mulai berkurang di ruang publik, termasuk mengenai defisit, kualitas pelayanan, dan pemidanaan rumah sakit.

Namun, menurut dia, setiap persoalan yang muncul tetap membutuhkan komunikasi yang cepat, terbuka, dan bertanggung jawab.

“Ketika muncul persoalan, komunikasi harus mampu memberikan penjelasan secara cepat, terbuka, dan bertanggung jawab,” ucapnya.

Sementara itu, Lomba Karya Jurnalistik BPJS Kesehatan 2026 menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap kontribusi insan pers dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai Program JKN.

Pada tahun ini, sebanyak 235 karya jurnalistik mengikuti kompetisi tersebut. Tema yang diangkat adalah layanan jantung dalam Program JKN.

Tema tersebut mencakup akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas hingga layanan jantung dengan teknologi canggih bagi peserta JKN.

Prihati berharap kegiatan media workshop, lomba karya jurnalistik, dan JKN Award tidak berhenti pada pemberian penghargaan kepada insan pers.

Menurut dia, rangkaian kegiatan tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara BPJS Kesehatan dan media dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Program JKN.

Media diharapkan terus menyampaikan informasi yang akurat dan edukatif, sekaligus memberikan kritik serta masukan terhadap aspek penyelenggaraan JKN yang masih membutuhkan pembenahan.

“Insan media, teruslah menjadi mitra yang kritis dan konstruktif. Sampaikan apa yang telah berjalan dengan baik dan jangan ragu menyampaikan apa yang masih perlu kami perbaiki,” ujar Prihati.