Banner Bersuarakita
Berita  

Malam di Atap, Ibu Bergelantungan, Adik Terjatuh: Kisah Asraf Bertahan dari Banjir Bandang Pidie Jaya

PIDIE JAYA, Bersuarakita  – Asraf, seorang pelajar SMA di Pidie Jaya, tak akan pernah melupakan malam-malam panjang yang nyaris merenggut keluarganya. Banjir bandang datang tanpa ampun, menghantam rumah mereka di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, hingga porak-poranda.

Hari pertama, Asraf dan keluarganya masih sempat berkemas, berharap air segera surut. Namun harapan itu runtuh di hari kedua. Air justru naik semakin tinggi, berubah menjadi banjir bandang yang ganas. Tak ada waktu menyelamatkan apa pun—hanya nyawa.

Asraf naik ke loteng bersama adiknya. Sementara itu, sang ibu terpaksa bertahan di bawah, bergelantungan di jeruji besi, melawan derasnya arus yang terus menghantam tubuhnya.

Kayu-kayu besar hanyut tak terkendali. Asraf melihat sendiri bagaimana batang kayu menghantam rumahnya. Dinding pecah, bangunan roboh, lumpur dan air bercampur menghantam segalanya.

“Kayu-kayu besar nabrak rumah, dinding pecah, roboh. Air deras sekali,” kenang Asraf.

Banjir paling parah datang pukul tiga dini hari. Gelap gulita. Tak terlihat jelas apakah ada orang yang terbawa arus. Yang ada hanya suara air, benturan kayu, dan jeritan ketakutan.

Di bawah, kondisi sang ibu semakin mengkhawatirkan. Tubuhnya terus dihantam kayu yang terbawa arus hingga ia lemas tak berdaya. Dua hari dua malam, sang ibu tak makan apa pun. Bantuan baru tiba di hari ketiga, itupun dari warga sekitar yang saling menolong dengan kemampuan seadanya.

Asraf baru bisa turun dari atap pada sore hari kedua, dijemput warga dengan alat seadanya. Saat itu air di ruang tamu mulai surut, namun di bagian belakang rumah masih setinggi dada.

Malam kedua menjadi ujian terberat. Di atas loteng, mereka tak tidur sama sekali. Asraf sudah berulang kali mengingatkan adiknya agar tetap terjaga. Namun kelelahan mengalahkan segalanya. Sang adik tertidur lalu terjatuh dari loteng.

Dalam hujan dan gelap, adiknya berusaha bangkit. Meski tubuhnya lemah, ia akhirnya berhasil naik kembali ke loteng sendiri. Tiga hari setelah bencana, hujan masih turun, dan trauma belum juga pergi.

Kini, Asraf selamat. Namun kenangan tentang malam di atap, ibu yang nyaris hanyut, dan adik yang terjatuh, akan selalu menjadi luka yang sulit disembuhkan.

Bagi Asraf dan banyak korban lainnya di Pidie Jaya, banjir bandang bukan sekadar bencana alam melainkan ujian hidup yang nyaris merenggut segalanya.