Daerah  

Pidie Jaya Luluh Lantak Diterjang Banjir Bandang  9.043 Keluarga Masih Mengungsi, 41 Ribu Lebih Jiwa Bertarung Dalam Derita Tanpa Rumah

PIDIE JAYA, Bersuarakita – Sepuluh hari sudah bencana banjir bandang dan longsor memorak-porandakan Kabupaten Pidie Jaya. Namun luka yang ditinggalkan bencana dahsyat itu masih jauh dari sembuh.

Sebanyak 9.043 keluarga atau 41.453 jiwa masih memadati posko-posko pengungsian, bergelut dengan rasa cemas, trauma, dan ketidakpastian kapan mereka dapat kembali ke rumah.

Jumlah korban jiwa juga meninggalkan duka mendalam:

27 orang meninggal dunia

380 orang luka berat

1.437 orang luka ringan

orang hilang: nihil

Sementara itu, polisi dan TNI masih menyisir kawasan-kawasan terisolir yang sulit diakses, mengantar bantuan dengan segala cara—dari kendaraan darat, melintasi puing dan lumpur, bahkan membawa logistik dengan cara manual demi memastikan tidak satu pun warga tertinggal.

Desanya Hancur, Rumah Hilang, Sarana Umum Runtuh

Bencana ini meninggalkan kerusakan masif di seluruh penjuru Pidie Jaya:

Rumah rusak:

Rusak ringan: 1.360 rumah

Rusak sedang: 242 rumah

Rusak berat: 8.806 rumah

114 rumah hilang tanpa jejak

Fasilitas dasar hancur:

MCK / sumur warga: 9.288 unit rusak

Kendaraan: 10.562 unit rusak

Rumah ibadah:

15 masjid rusak

108 meunasah/mushalla rusak

Dunia pendidikan porak poranda:

TK/PAUD: 25

SD: 61

SMP: 20

SMA: 8

SMK: 1

RA: 2, MI: 16, MTs: 9, MA: 3, dan 1 STPNS SKB Pidie Jaya

Dayah/ponpes: 10, balai pengajian: 142 rusak

Total desa terdampak: 222 desa
Total kepala keluarga terdampak: 15.265 KK
Titik pengungsian: 66 lokasi

Kapolres Pidie Jaya: “Banjir surut, tapi pekerjaan kita baru dimulai


Kapolres Pidie Jaya, AKBP Ahmad Faisal Pasaribu, menyampaikan bahwa meski banjir sudah menyusut, fase paling berat justru dimulai saat ini.

“Alhamdulillah kondisi Pidie Jaya mulai sedikit membaik dalam arti banjirnya sudah surut. Tetapi yang ditinggalkan adalah lumpur, sangat banyak lumpur yang harus dibersihkan. Ada jalan rusak dan aliran sungai yang berbelok menghantam permukiman—ini memerlukan penanganan semua pihak.”

Ia juga mengungkapkan bahwa bantuan terus berdatangan dari pusat dan pemerintah daerah:

“Kita bertahap memperbaiki, terutama meluruskan aliran sungai yang keluar dari jalurnya dan membersihkan endapan lumpur yang sangat tinggi. Bantuan juga terus kita distribusikan.”

Kapolres menambahkan bahwa jembatan nasional Krueng Meureudu mulai dikerjakan kembali setelah terhambat tumpukan kayu besar dan material banjir.

“Di bawah jembatan ada dahan pohon yang sangat besar. Kita bersihkan agar aliran sungai lancar. Setelah itu jalan menuju jembatan yang putus akan diperbaiki supaya jalur nasional dapat kembali normal.”

Pidie Jaya kini berdiri di titik antara keputusasaan dan harapan. Warga masih bertahan di pengungsian, relawan dan aparat bekerja siang malam, dan pemerintah berpacu dengan waktu untuk memastikan daerah ini tidak tenggelam dalam gelombang bencana susulan.