Daerah  

DPRK Pidie Jaya Sentil Musrenbang: Ribuan Hadir, Aspirasi Harus Nyata”Jangan Jadi Pepesan Kosong!”

PIDIE JAYA, Bersuarakita – Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPK 2027 di Kabupaten Pidie Jaya menuai sorotan tajam dari kalangan legislatif. Anggota DPRK Pidie Jaya, Nazaruddin Ismail atau yang akrab disapa Ustaz Am, mengingatkan agar forum besar tersebut tidak berakhir sekadar seremonial.

Dalam forum yang dihadiri lebih dari seribu peserta itu, Nazaruddin menyebut Musrenbang kali ini sebagai yang terbesar sepanjang penyelenggaraan di Pidie Jaya.

“Biasanya hanya sekitar 600 orang, sekarang bisa lebih dari 1.000. Ini luar biasa, tapi jangan sampai hanya ramai di awal, hasilnya kosong,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa kehadiran peserta dari berbagai gampong harus diiringi dengan hasil konkret. Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya datang, mendengar, mencatat, lalu pulang tanpa kepastian realisasi usulan.

“Jangan sampai masyarakat pulang dan bilang ini hanya pepesan kosong. Aspirasi yang disampaikan harus benar-benar ditampung dan direalisasikan,” ujarnya.

Nazaruddin bahkan mendorong agar setiap kecamatan minimal memiliki 20 usulan prioritas, dengan setidaknya lima usulan yang benar-benar bisa masuk dan direalisasikan dalam program pembangunan daerah.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran Bappeda Pidie Jaya dalam memastikan seluruh usulan yang belum tertampung tetap dicatat dan diteruskan kepada SKPK terkait untuk ditindaklanjuti.

Di sisi lain, DPRK juga menegaskan akan menjalankan fungsi pengawasan secara aktif terhadap seluruh proses perencanaan hingga realisasi program pembangunan.

“Kami di DPRK akan mengawasi dari sekarang, mulai dari tingkat kecamatan sampai pelaksanaan nanti,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Nazaruddin turut mengapresiasi kinerja Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya dalam merespons bencana banjir 2025. Ia menyebut daerah tersebut menjadi salah satu yang tercepat dalam menyiapkan data sehingga berhasil mendapatkan alokasi bantuan dari pemerintah pusat.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa musibah tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti bergerak.

“Bencana ini ujian dari Allah, bukan kehendak siapa pun. Yang penting kita tetap bekerja, tetap optimis,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Nazaruddin mengajak seluruh elemen pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kekompakan dalam membangun daerah.

“Kita ingin pembangunan berjalan dengan kebersamaan, bukan pesimisme. Yang dibutuhkan sekarang adalah optimisme dan kerja nyata,” pungkasnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat keras: di balik megahnya forum Musrenbang, publik menunggu bukti—bukan sekadar janji.