PIDIE JAYA, Bersuarakita – Di tengah lumpur yang masih basah dan sisa-sisa puing bencana, sebuah jabat tangan sederhana menjadi simbol kuat solidaritas dan kemanusiaan.
Foto ini diabadikan di Posko Pengungsian Desa Dayah Usen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Acehwilayah yang terdampak parah banjir bandang dan longsor.
Terlihat seorang jurnalis iNews TV berjabat tangan erat dengan anggota Polri, Ambarita, di sela-sela aktivitas penanganan bencana.
Bukan sekadar pose, momen ini merekam pertemuan dua peran penting di garis depan musibah: penyampai suara rakyat dan penjaga keamanan masyarakat.
Di balik senyum yang tampak sederhana, tersimpan cerita panjang tentang kelelahan, empati, dan tanggung jawab. Sang jurnalis terus bergerak dari titik ke titik, mengabarkan kondisi pengungsi, menyuarakan kebutuhan mendesak warga, dan memastikan tragedi ini tak luput dari perhatian publik nasional.
Sementara itu, Ambarita bersama rekan-rekannya berjaga tanpa henti, memastikan posko aman, membantu distribusi logistik, serta memberi rasa tenang bagi para pengungsi yang kehilangan rumah dan harta benda.
Latar bangunan posko yang masih dipenuhi bekas lumpur menjadi saksi bahwa bencana ini nyata dan menyisakan luka mendalam.
Namun, di tempat yang sama pula harapan tumbuh—dari kerja bersama, dari sinergi antara media dan aparat, dari kepedulian yang tak mengenal sekat profesi.
Foto ini adalah potret kecil dari perjuangan besar di Dayah Usen. Tentang Aceh yang diuji, tentang Pidie Jaya yang bertahan, dan tentang manusia-manusia yang memilih untuk tetap berdiri bersama di tengah bencana.













