PIDIE JAYA, Bersuarakita – Malam pelantikan yang seharusnya berlangsung penuh seremoni di Pidie Jaya justru berubah menjadi malam ujian bagi pejabat baru pemerintah daerah. Saat 21 pejabat pimpinan tinggi pratama (Eselon II) resmi dilantik di Aula Cot Trieng Kantor Bupati, air Sungai Meureudu di luar gedung justru mulai meluap dan merendam sejumlah gampong.
Ironisnya, ketika sumpah jabatan masih menggema di dalam ruangan, laporan banjir mulai berdatangan dari sejumlah desa di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua.
Pelantikan yang dipimpin langsung Bupati Sibral Malasyi bersama Wakil Bupati dan unsur Forkopimda itu digelar pada Rabu malam, 8 April 2026. Agenda tersebut merujuk pada Keputusan Bupati Nomor 800.1.3/14/JPT/2026 tentang pemberhentian dan pengangkatan pejabat pimpinan tinggi pratama sebagai bagian dari perombakan struktur birokrasi.
Rotasi kali ini tergolong besar. Sejumlah kepala dinas strategis digeser, sebagian masuk ke posisi asisten dan staf ahli, sementara wajah lama tetap dipertahankan di beberapa posisi kunci.
Beberapa nama yang ikut bergeser antara lain Said Abdullah yang kini memimpin Dinas Syariat Islam, Saiful sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong, serta T. Samsul Bakri yang dipercaya memimpin Dinas Pendidikan Dayah.
Di lingkaran Sekretariat Daerah, drh. Muzakkir kini mengisi posisi Asisten Perekonomian dan Pembangunan, sementara Helmi menjabat Asisten Administrasi Umum.
Perubahan juga terjadi di sektor perencanaan dan pendidikan. Dr. Yandi Yusnandar kini memimpin Bappeda, sedangkan T. Muhalil dipercaya sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Sementara Rusli bergeser menjadi Staf Ahli Bidang Perekonomian, Keuangan, dan Pembangunan.
Rotasi tersebut menyentuh hampir seluruh sektor strategis pemerintahan daerah mulai dari kesehatan, perhubungan, komunikasi dan informatika, pertanahan, hingga penanggulangan bencana.
Namun belum sempat para pejabat baru menikmati suasana pelantikan, kabar kurang baik datang dari luar aula.
Luapan Krueng Meureudu mulai merendam sejumlah permukiman di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua. Air yang terus naik membuat warga kembali waspada, mengingat wilayah tersebut masih dalam fase pemulihan pascabanjir besar yang terjadi pada November 2025.
Situasi ini seolah menjadi “tes lapangan” pertama bagi jajaran baru birokrasi daerah.
Dalam sambutannya, Bupati Sibral Malasyi menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar pergantian kursi, melainkan upaya memperkuat mesin pemerintahan agar lebih responsif terhadap persoalan masyarakat.
Namun realitas di lapangan malam itu menunjukkan bahwa tantangan tidak menunggu lama.
“Ini ujian pertama bagi pejabat yang baru dilantik. Saya ingin semua turun langsung ke lapangan, bergerak cepat, dan memastikan masyarakat tidak dibiarkan menghadapi situasi ini sendirian,” tegasnya.
Dengan banjir yang datang hampir bersamaan dengan pelantikan, publik kini menunggu apakah susunan baru birokrasi di Pidie Jaya benar-benar mampu bekerja cepat atau justru tenggelam dalam rutinitas lama pemerintahan.
Kontributor : Jamal Pangwa












