BANDA ACEH,Bersuarakita – Produksi padi di Aceh sepanjang Januari hingga Desember 2025 mengalami penurunan cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Data rekapitulasi luas panen dan produksi padi menunjukkan total produksi gabah kering giling (GKG) Aceh turun 44.766 ton atau 2,70 persen dibandingkan tahun 2024.
Pada 2024, total produksi GKG Aceh mencapai 1,65 juta ton, namun pada 2025 turun menjadi 1,61 juta ton. Penurunan juga terjadi pada luas panen yang menyusut dari 301.196 hektare menjadi 283.182 hektare atau berkurang sekitar 18 ribu hektare.
Meski demikian, produktivitas pertanian di sejumlah daerah justru menunjukkan peningkatan tajam dan menjadi penopang baru ketahanan pangan Aceh.
Kabupaten Pidie menjadi daerah dengan lonjakan produksi terbesar. Produksi GKG di wilayah tersebut naik dari 239.555 ton pada 2024 menjadi 268.134 ton pada 2025, atau meningkat 11,93 persen. Kenaikan itu turut mendorong produksi beras Pidie mencapai 154.468 ton.
Selain Pidie, Aceh Barat juga mencatat lonjakan produksi signifikan. Produksi GKG daerah itu naik 19,40 persen menjadi 81.123 ton dibanding tahun sebelumnya yang hanya 67.942 ton.
Sementara Aceh Barat Daya mencetak kenaikan produksi hingga 21,70 persen dengan produktivitas mencapai 6,68 ton per hektare, tertinggi di Aceh.
Di tengah penurunan luas panen akibat perubahan cuaca dan dampak bencana hidrometeorologi, Kabupaten Pidie Jaya tetap menunjukkan produktivitas tinggi. Meski produksi turun 6,54 persen, produktivitas padi daerah itu justru meningkat dari 6,77 ton menjadi 7,19 ton per hektare, tertinggi di Aceh.
Sebaliknya, sejumlah sentra pangan utama mengalami penurunan drastis. Kabupaten Bireuen kehilangan produksi hingga 37.471 ton atau turun 23,39 persen. Aceh Utara juga turun lebih dari 35 ribu ton, sementara Aceh Besar kehilangan produksi sekitar 12.555 ton.
Nagan Raya menjadi daerah dengan penurunan luas panen paling tajam, mencapai 31,95 persen. Produksi daerah itu juga anjlok lebih dari 20 persen dibanding tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan sektor pertanian Aceh sedang menghadapi tekanan serius, terutama akibat menyusutnya luas tanam dan dampak perubahan iklim. Namun di sisi lain, sejumlah daerah mampu membuktikan bahwa peningkatan produktivitas dan penguatan teknologi pertanian tetap bisa menjaga produksi pangan.
Pemerintah daerah kini didorong memperkuat irigasi, distribusi pupuk, hingga pendampingan penyuluh pertanian agar tren penurunan produksi tidak terus berlanjut pada musim tanam berikutnya.












