Daerah  

Program MBG Dorong Ekonomi Desa, BUMG Jadi Pemasok Kebutuhan Dapur SPPG di Aceh Selatan

Direktur BUMG GLARA Pasar, M. Aqdar Nasmadi

ACEH SELATAN,Bersuarakita – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak nyata terhadap penguatan ekonomi desa. Salah satunya terlihat dari peran Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) yang kini menjadi pemasok kebutuhan pokok bagi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Direktur BUMG GLARA Pasar, M. Aqdar Nasmadi, mengatakan pihaknya saat ini menyuplai kebutuhan beras untuk dapur SPPG yang dikelola Yayasan Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia di wilayah Tapaktuan Hilir. Permintaan beras tercatat cukup stabil, bahkan cenderung meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

“Dalam sebulan, kebutuhan beras bisa mencapai sekitar 70 hingga 74 sak. Bahkan dalam hitungan mingguan, permintaan cukup tinggi karena kebutuhan dapur berjalan setiap hari,” ujarnya.

Menurut Aqdar, kesiapan BUMG dalam memenuhi kebutuhan tersebut didukung oleh alokasi anggaran desa, khususnya dari program ketahanan pangan yang mencapai sekitar 20 persen dari dana desa. Skema ini memungkinkan BUMG untuk menjaga pasokan sekaligus menjalankan fungsi ekonomi secara mandiri.

Saat ini, BUMG masih berfokus pada penyediaan beras sebagai komoditas utama. Namun ke depan, tidak menutup kemungkinan untuk memperluas jenis pasokan sesuai kebutuhan dapur.

Dari sisi ekonomi, Aqdar menilai keberadaan program MBG memberikan dampak signifikan terhadap perputaran uang di desa. Pendapatan dari penjualan ke dapur SPPG masuk sebagai Pendapatan Asli Desa (PAD), yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk berbagai program sosial.

“Dampaknya cukup terasa. Dengan adanya permintaan rutin, perputaran ekonomi di desa berjalan. Laba yang diperoleh bisa digunakan untuk kegiatan sosial seperti pembagian sembako murah atau santunan bagi masyarakat,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui terdapat sejumlah tantangan, terutama terkait kestabilan pasokan beras. Faktor cuaca, distribusi, hingga potensi bencana alam dinilai dapat mengganggu rantai pasok.

“Kalau harga relatif aman karena sudah dianggarkan, tapi yang dikhawatirkan adalah ketersediaan stok. Misalnya jika terjadi banjir atau akses distribusi terputus, itu bisa jadi kendala,” ujarnya.

Selain itu, BUMG juga harus menjaga kualitas beras sesuai standar yang ditetapkan pihak dapur, yang mengutamakan beras bersih dan layak konsumsi dalam skala besar.

Ke depan, BUMG berharap kemitraan dengan dapur SPPG dapat terus berlanjut dan berkembang. Dengan adanya kepastian pasar, BUMG optimistis mampu meningkatkan pendapatan sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat desa.

“Harapannya kerja sama ini terus berlanjut. Dengan konsumen tetap, ekonomi desa bisa terus bergerak dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat,” tutur Aqdar.