ACEH SELATAN,Bersuarakita – Gemericik air sungai yang jernih, serta hijaunya perkebunan pala dan durian menjadi pembuka perjalanan wisata petualangan menuju Goa Kalam, sebuah destinasi alam yang tersembunyi di Desa Jambo Apha, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan.
Minggu pagi, 7 Juni 2026, Komunitas Wisata Tuantapa memulai ekspedisi menjelajahi salah satu objek wisata petualangan yang mulai menarik perhatian para pencinta alam tersebut. Perjalanan menuju Goa Kalam bukan sekadar wisata biasa, tetapi pengalaman yang memadukan keindahan alam, tantangan trekking, dan kekayaan kearifan lokal masyarakat setempat.
Langkah demi langkah menyusuri jalan setapak yang membelah perkebunan warga menjadi awal petualangan. Di sepanjang jalur, para peserta disuguhi pemandangan pohon pala, durian, dan pinang yang tumbuh subur di lereng-lereng perbukitan.
Rombongan dipandu oleh tokoh pemuda setempat, Ismail Ali Raja Lubis, yang dengan antusias menceritakan sejarah dan potensi wisata Goa Kalam. Jalur yang sedikit menanjak dan berbukit membuat perjalanan terasa menantang. Sesekali peserta harus berhenti untuk mengatur napas sambil menikmati panorama alam yang masih sangat asri.

“Perjalanan menuju Goa Kalam memang membutuhkan sedikit perjuangan, tetapi semua rasa lelah akan terbayar saat tiba di lokasi,” ujar Lubis di sela perjalanan.
Menuju Goa Kalam tersedia dua pilihan jalur, yakni melalui aliran sungai dan jalur perbukitan. Dalam perjalanan kali ini, rombongan melewati kombinasi jalan setapak dan beberapa titik sungai dengan air yang bening dan sejuk. Suasana pedesaan yang tenang serta suara alam yang mendominasi membuat perjalanan terasa begitu menyenangkan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam atau lebih dari 5.300 langkah kaki, mulut Goa Kalam akhirnya terlihat. Rasa penasaran yang sejak awal menyelimuti perjalanan perlahan terjawab saat hamparan batuan alami dan aliran air pegunungan menyambut kedatangan rombongan.
Momen tersebut langsung dimanfaatkan peserta untuk mengabadikan kebersamaan melalui foto bersama di depan pintu masuk goa. Beberapa langkah memasuki kawasan goa, pengunjung akan disambut koloni kelelawar yang bergelantungan di dinding-dinding batu kapur.
Meski suasana di dalam goa cenderung gelap, keindahan formasi batuan stalaktit dan stalagmit menjadi daya tarik utama. Aliran air pegunungan yang mengalir di dalam goa menciptakan suasana sejuk dan menenangkan, menjadikannya tempat ideal untuk melepas penat dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Di tengah suasana alami tersebut, rombongan menikmati bekal yang dibawa dari rumah sambil mendengarkan suara air yang terus mengalir dari celah-celah batu. Kesederhanaan itulah yang justru menghadirkan pengalaman wisata yang autentik dan sulit dilupakan.

Selain menawarkan panorama alam yang menawan, pengelola lokal juga mengedepankan nilai-nilai kearifan setempat. Lubis mengingatkan setiap pengunjung untuk menjaga kebersihan, menghormati aturan yang berlaku, serta tidak merusak lingkungan sekitar.
“Goa Kalam menawarkan keindahan alam yang luar biasa, namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Karena itu, kami mengimbau setiap wisatawan untuk mematuhi aturan yang berlaku, menghargai budaya masyarakat sekitar, serta wajib menggunakan jasa pemandu lokal. Setelah pukul 16.00 WIB, pengunjung tidak lagi diperkenankan memasuki kawasan wisata ini guna menghindari berbagai potensi risiko selama perjalanan,” tegasnya.
Dalam rombongan tersebut turut hadir Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Selatan yang juga Ketua Komunitas Wisata Tuantapa , Muchsin. Ia menilai Goa Kalam memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan berbasis alam .












