Daerah  

Kisah Ujang Kasim Bangun Mushalla H. Muhammad Kasim di Aceh Selatan dari Tabungan Gaji dan Doa di Ka’bah

ACEH SELATAN,Bersuarakita – Tidak semua rumah ibadah dibangun melalui bantuan lembaga besar atau donasi para dermawan. Di Dusun Padang Paweh, Desa Suaq Hulu, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, berdiri sebuah mushalla yang lahir dari kisah perjuangan, doa, dan bakti seorang anak kepada orang tua serta ulama yang dihormatinya.

Mushalla H. Muhammad Kasim yang kini tampak megah, asri, dan nyaman untuk beribadah, menyimpan cerita panjang tentang cita-cita yang dipelihara selama bertahun-tahun oleh seorang perantau asal Aceh Selatan, Kasmarizal atau yang akrab disapa Ujang Kasim.

Pembangunan mushalla tersebut bukan hanya berangkat dari keinginan pribadi. Lebih dari itu, mushalla ini merupakan harapan yang pernah disampaikan orang tuanya semasa hidup kepada sang anak agar kelak dapat membangun sebuah rumah ibadah yang bermanfaat bagi masyarakat. Harapan itu juga mendapat dukungan dan doa dari sejumlah ulama kharismatik Aceh yang menginginkan hadirnya pusat ibadah dan syiar Islam di kawasan tersebut.

Berbekal tekad yang kuat, Ujang Kasim bersama sang istri mulai menyisihkan sebagian penghasilan mereka dari gaji yang diperoleh selama bekerja di berbagai daerah hingga luar negeri. Sedikit demi sedikit tabungan itu dikumpulkan demi mewujudkan impian yang telah lama tersimpan di dalam hati.

“Awalnya saya hanya berniat membangun mushalla kecil. Alhamdulillah, niat itu terus saya pegang ke mana pun saya bekerja. Saya dan istri menabung dari gaji kami sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa mewujudkan pembangunan mushalla ini,” ujar Ujang Kasim.

Perjalanan mewujudkan impian tersebut mencapai momen yang sangat berkesan ketika dirinya menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci. Di hadapan Ka’bah, tempat yang diyakini umat Islam sebagai salah satu lokasi mustajab untuk berdoa, ia memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam membangun rumah ibadah di kampung halamannya.

Doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan itu terus ia simpan dalam hati hingga kembali ke Indonesia. Tahun demi tahun berlalu, hingga akhirnya cita-cita tersebut benar-benar menjadi kenyataan.

“Ketika di Mekkah saya berdoa di depan Ka’bah agar Allah memudahkan cita-cita membangun mushalla ini. Alhamdulillah, doa itu akhirnya dikabulkan,” kenangnya.

Tidak hanya menjadi penggagas pembangunan, Ujang Kasim juga terlibat langsung dalam proses perencanaan desain bangunan. Pengalamannya bekerja dan berkunjung ke sejumlah negara seperti China, Belanda, dan Swiss menginspirasinya untuk menghadirkan konsep rumah ibadah yang sederhana namun tetap elegan.

Karena itu, Mushalla H. Muhammad Kasim tampil berbeda dari kebanyakan rumah ibadah pada umumnya. Bangunan ini mengusung desain minimalis modern tanpa kubah besar, dipadukan dengan penataan taman yang dipenuhi aneka bunga sehingga menciptakan suasana yang sejuk, nyaman, dan menenangkan bagi para jamaah.

Bagi Ujang Kasim, mushalla tersebut bukan sekadar bangunan fisik. Ia memaknainya sebagai simbol cinta kepada kampung halaman, bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah menitipkan harapan semasa hidup, serta wujud syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT.

Mushalla itu juga diharapkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi masyarakat dan generasi mendatang.

Bahkan, kepada keluarganya, Ujang Kasim telah menyampaikan keinginan agar kelak dimakamkan di samping mushalla yang dibangunnya tersebut.

“Jika Allah mengizinkan, saya ingin dimakamkan di samping mushalla ini. Ini adalah bentuk kecintaan saya kepada kampung halaman dan rumah ibadah yang kami bangun bersama keluarga,” tuturnya.