ACEH SELATAN,Bersuarakita – Sejumlah pedagang di Tapaktuan mengeluhkan lonjakan harga barang, khususnya bahan plastik, yang berdampak langsung pada penurunan omzet penjualan. Kenaikan harga tersebut disebut mencapai 20 hingga 35 persen dalam beberapa waktu terakhir.
Salah seorang pedagang pecah belah di Tapaktuan, Herman Arif, kenaikan harga plastik berdampak luas pada berbagai jenis barang dagangan. Produk seperti sapu plastik, ember, lemari, hingga kursi mengalami kenaikan harga seiring penyesuaian dari distributor.
“Baru saja kami menerima daftar harga terbaru lagi dari distributor, dan hampir semua barang berbahan plastik mengalami kenaikan. Dalam kondisi seperti ini, kami kesulitan menjual. Bahkan tidak jarang kami merugi karena harga modal sudah terlanjur lebih tinggi dibanding harga jual sebelumnya,” ujar Herman Arif, yang akrab disapa Papie, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, kondisi ini mulai dirasakan sejak sekitar satu bulan terakhir dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang beras di wilayah tersebut. Mereka terpaksa menyesuaikan harga jual bukan karena harga beras yang naik, melainkan akibat kenaikan harga karung atau goni plastik sebagai bahan kemasan.
“Yang naik itu bukan berasnya, tapi plastik atau karungnya. Mau tidak mau harga jual ikut disesuaikan,” ungkap seorang pedagang beras.
Di sisi lain, kenaikan harga mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Yati, ibu rumah tangga, mengaku terkejut dengan perubahan harga dalam waktu singkat.
“Kemarin beli beras masih normal – normal aja , sekarang sudah naik. Barang pecah belah juga naik,” ujarnya kepada bersuarakita dengan nada kecewa
Para pedagang berharap adanya perhatian dari pemerintah terkait stabilitas harga bahan pendukung seperti plastik dan biaya distribusi, agar tidak terus menekan daya beli masyarakat serta keberlangsungan usaha kecil di daerah.








