Banner Bersuarakita
Opini  

Pak Dirman Dua Dekade Mengabdi, Jabatan Tak Pernah Singgah

Di sebuah kabupaten kecil di pesisir barat Sumatra, ada seorang pegawai bernama Pak Dirman. Hampir setiap pagi ia datang paling awal, menyalakan komputer, dan merapikan arsip. Saat rekan-rekan muda kebingungan menyusun laporan, Pak Dirman selalu hadir memberi arahan.

Dua puluh tahun sudah ia mengabdi. Ilmu administrasi ia kuasai, pengalaman lapangan ia jalani, Namun, jabatan tak pernah singgah. Setiap kali ada promosi, namanya tak pernah disebut.

“Kalau soal kerjaan, saya bisa. Tapi saya bukan orang yang pandai cari muka,” katanya lirih, sambil menatap tumpukan berkas di mejanya.

Di birokrasi daerah ini, meritokrasi seolah hanya slogan di spanduk. Jabatan lebih sering diberikan kepada mereka yang punya kedekatan dengan pimpinan, bukan kepada yang berkompeten.

Rekan kerjanya bersaksi. “Kalau ada pejabat baru, biasanya justru Pak Dirman yang ngajari. Tapi kalau ada kursi kosong, yang naik ya pasti orang dekat atasan.”

Fenomena ini memperlihatkan wajah asli birokrasi negeri antah berantah sistem meritokrasi mandek, nepotisme berjaya. Pegawai-pegawai berilmu dan berpengalaman terpinggirkan, sementara kursi jabatan diperebutkan dengan logika kedekatan.

Meski begitu, Pak Dirman tetap bertahan. “Saya kerja bukan untuk jabatan. Saya kerja untuk anak-anak saya, supaya bisa sekolah tinggi dan jadi lebih baik dari bapaknya,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Senyum itu menutupi luka panjang, kisah getir dari seorang pegawai yang setia, meski negeri tak pernah benar-benar berpihak pada mereka yang bekerja dengan tulus tanpa pamrih.

Penulis : Ichdar Ifan